Stanley adalah perusahaan dengan usia 100+ tahun yang telah memiliki porsi market share yang tetap, terutama di pasar Amerika. Meskipun Stanley termasuk dalam salah satu brand yang terpercaya seperti Tupperwear, Stanley bukan brand yang ramai dibicarakan seperti Corkcicle dan Starbucks. Atau paling tidak, sampai tahun ini.
Stanley Quencher menjadi sangat viral dalam semalam dan disebut sebagai ‘Stanley Cup’ yang ikonik dengan brand Stanley. Produk ini melebihi ekspektasi perusahaan karena telah diperkenalkan sejak tahun 2016 dan bukan produk utama dari perusahaan. Nyatanya, lini produk Stanley Quencher tidak diprioritaskan dalam produksi di tahun 2019.
Pertanyaannya, kenapa? Apa yang terjadi? Ini semua berkat kekuatan word-of-mouth organik dari TikTok video yang viral hingga 80jt+ views..
TikTok Video yang Viral

TikTok content creator, Danielle, dengan followers lebih dari 90.000 orang telah mencuri perhatian publik dengan videonya baru-baru ini yang menunjukkan hasil dari mobilnya yang terbakar habis dengan Stanley Cup di dalamnya. Ia kemudian mengangkat Stanley Cup yang masih utuh itu sambil berkata, “Bahkan masih ada esnya di dalam.”.
Publik langsung ramai membicarakan video viral tersebut, kebanyakan audiens memuji Stanley dengan kualitas bahannya yang tidak diragukan, dan agak tidak masuk akal tersebut. Beberapa juga mengatakan bahwa Stanley sebaiknya membayar Danielle upah iklan, karena video tersebut menunjukkan contoh yang sempurna dari testimoni organik seorang pengguna sambil mempromosikan kualitas produknya.
Respon Stanley dengan Strategi Marketing Efektif

Ketika sebuah brand menjadi viral dalam semalam karena postingan media sosial, wajib hukumnya bagi brand untuk merespon. Hal ini bisa menjadi cara yang bagus dalam mengikuti viral marketing dan meningkatkan sales. Dari video yang viral, Stanley melakukan langkah strategi marketing genius dengan, mengunggah responnya terkait video Stanley Cup yang viralVideo tersebut dimulai dengan Presiden Stanley yang menunjukkan perhatian terhadap kondisi Danielle serta terima kasih atas testimoninya terhadap kualitas Stanley Cup.
Kamu mungkin bertanya, ‘Apanya yang genius dari respon brand biasa?’. Biasanya, ketika ada fenomena viral yang positif, respon normal dari brand adalah mengirimkan produknya kepada creator tersebut. Ini adalah bentuk strategi branding dalam contoh content marketing untuk mendapatkan lebih banyak opini positif dari publik dengan mengekspresikan kepedulian dan rasa terima kasih terhadap komunitasnya, hingga mendapat simpati secara efektif.
Jadi wajar saja ketika video Stanley Cup viral, publik berekspektasi pada Stanley untuk mengirimkan beberapa botol tumbler sebagai rasa terima kasih atas views di atas 80jt tersebut. Tetapi Stanley tidak memberikan seadanya. Selain kiriman wajib berupa botol tumbler, Presiden Stanley juga berkata bahwa mereka akan mengganti kendaraan yang terbakar.
Respon mengejutkan ini mendapatkan respon yang spektakuler. Stanley tidak hanya mengakui iklan gratis yang mereka dapat dari video viral tersebut, tetapi juga memberikan sebuah mobil sebagai terima kasih. Hasil dari strategi digital marketing ini memberi Stanley banyak koneksi emosional dengan audiens mereka sebagai brand yang memahami pentingnya nilai viral marketing serta menunjukkan kepedulian terhadap pelanggan mereka.
Efeknya pada Awareness dan Consideration
Stanley memang sudah menjadi salah satu pilihan utama brand tumbler di Amerika, tetapi Stanley belum menjadi brand umum di Indonesia. Namun karena video viral tersebut, banyak orang Indonesia yang mulai menyadari adanya brand Stanley sebagai opsi untuk reusable cup.
Dalam strategi funnel marketing, video viral tersebut telah memenuhi role-nya pada saluran pemasaran awareness secara internasional--khususnya di Indonesia. Selain 100jt+ impression dari TikTok, Stanley juga mendapatkan banyak pemberitaan dari berbagai media yang menyebutkan brand sebagai bentuk periklanan media yang sangat positif kepada audiens baru yang berbeda.
Baca Selengkapnya : Avond Study Case on Branding
Jika untuk mendapatkan 1.000 views membutuhkan biaya Rp150.000, maka untuk mendapatkan 100jt impresi sesuai hasil viral marketing, Stanley perlu membayar 15 Miliar Rupiah. Ini semua berkat strategi branding mereka yang sigap dalam merespon komunitas dengan jawaban yang dapat diterima positif oleh publik.

Jika untuk mendapatkan 1.000 views membutuhkan biaya Rp150.000, maka untuk mendapatkan 100jt impresi sesuai hasil viral marketing, Stanley perlu membayar 15 Miliar Rupiah. Ini semua berkat strategi branding mereka yang sigap dalam merespon komunitas dengan jawaban yang dapat diterima positif oleh publik.
Sebagai kesimpulan dari fenomena Stanley Cup, selalu dengarkan komunitasmu. Hal ini adalah kunci strategi digital marketing yang efektif untuk berinteraksi secara positif dengan publik dan meninggalkan kesan yang baik. Jangan sampai brandmu dilupakan oleh audiensmu, kamu bisa menghubungi Avond Studio untuk layanan branding lebih lanjut.